Karbondioksida adalah salah satu elemen utama yang dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis. Perannya adalah sebagai media yang mengasimilasi energi (cahaya) dan nutrisi untuk diproses dalam fotosintesis. Keberadaan karbondioksida dalam aquarium atau aquascape sering sekali diabaikan. Banyak di antara pelaku aquascape lebih mementingkan elemen lampu dan nutrisi. Akibatnya, lebih dari 80% permasalahan yang timbul dalam aquarium atau aquascape adalah berkaitan dengan karbondioksida (CO2).
“…we suggest commencing CO2 addition before any other action is taken!”
– O. Pederson, C. Christensen & T. Andersen
Jika CO2 dilepaskan oleh ikan dan hewan lain di dalam tank, mengapa injeksi CO2 diperlukan untuk akuarium yang ditanami tanaman? Meskipun tanaman menerima sejumlah CO2 dari lingkungan alaminya, mereka tidak menerima cukup. Air keran cenderung mencapai keseimbangan dengan udara pada 6 atau 7 pm CO2. Akuarium tidak dapat menopang populasi ikan yang padat dan membiarkan ikan-ikan itu tetap sehat, tetapi di alam liar, setiap tanaman saling berhubungan dengan ruang yang luas yang dipenuhi oleh sekumpulan ikan yang bergerak masuk dan keluar dari area tersebut.
Danau, kolam, sungai, dan lautan ini semuanya melihat jumlah produksi CO2 yang lebih tinggi secara drastis — kadang-kadang konsentrasi 10 ppm, dan kadangkadang bahkan lebih dari 40, terlihat di alam bebas. Pertimbangkan untuk menggabungkan injeksi CO2 dengan pencahayaan yang lebih baik untuk lebih meningkatkan pertumbuhan dan keindahan tanaman dalam tank akuarium Anda.
Ingat bahan yang paling penting untuk proses fotosintesis: air dan CO2 dapat ada di sekitar, dan keduanya akan menyediakan apa yang dibutuhkan tanaman Anda untuk berkembang, tetapi semakin banyak energi yang diberikan tanaman Anda untuk fotosintesis, semakin mereka dapat secara efektif menggunakan bahanbahan tersebut. Jika injeksi gas CO2 belum mungkin Anda pertimbangkan saat ini, alternatif terbaik berikutnya adalah menggunakan “sumber karbon” cair.
Keberadaan karbondioksida (CO2) dalam aquascape dapat digantikan perannya oleh karbonat (HCO3/2HCO3) (Madsen, Sand Jensen 1991; Photosyntetic carbon assimilation in aquatic macrophytes) dan zat cross-linked-protein atau amino yang sering disebut juga sebagai “carbon cair”. Namun tidak semua tanaman dalam aquascape dapat menggunakan Karbonat sebagai pengganti CO2 dalam proses fotosintesis. Bahkan ada beberapa jenis tanaman yang sensitif pada tingkat karbonat yang tinggi.
Baik Karbonat dan carbon cair, keduanya mempunyai efek samping negatif juga pada beberapa tanaman dan bisa membunuh bakteri-bakteri berguna yang ada di dalam aquarium. Namun dampak baik dari penggunaan carbon cair salah satunya yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman hingga dua kali lipat, bila dibandingkan dengan Karbonat, dan dapat mengontrol algae dalam aquarium.
“Aku Bermimpi Mendesain Aquascape, Dan kemudian Aku Membuat Aquascape Impianku” – Anonymous –
Sebagai sumber karbon dalam proses fotosintesis, tanaman lebih menyukai CO2 (gas terlarut) dibandingkan dengan karbonat, tingkat efektivitas nya adalah 10 berbanding 1 (Wetzel, 1983, D. Walstad, 1997). Hal ini disebabkan oleh kerja ekstra dan energi lebih banyak yang dibutuhkan tanaman dalam memproses karbonat agar dapat digunakan dalam proses fotosintesis (Frost, Christensen, Sand & Jensen, 1995; Aqua Botany 51).
Berikut mengapa CO2 sangat dibutuhkan:
1.Mencegah pertumbuhan algae Karbondioksida (CO2) jika dibarengi dengan cahaya yang cukup, akan menyerap nutrisi yang berada di dalam air. Dengan demikian, algae akan sulit untuk berkembang karna tidak ada nutrisi yang dapat digunakan oleh algae.
2.Menghasilkan Oksigen (O2) Jika karbondioksida berasimilasi dengan cahaya, maka tanaman akan mengeluarkan Oksigen. Oksigen tidak hanya diperlukan oleh ikan hias saja, tetapi juga bagi pertumbuhan bakteri pengurai untuk menciptakan air yang jernih dan sehat.