Seni Aquascape
Aquascape
Aquascape dari segi Bahasa terdiri dari dua suku kata, yaitu Aqua dan Scape. Aqua berasal dari Bahasa latin yang berarti “air”, sedangkan Scape menurut kamus Merriam-Webster adalah “a view of picture” atau “scene”, yang berarti “pemandangan di dalam air” Secara definisi lengkap aquascape adalah ide kreatif yang dideskripsikan menggunakan teknik keterampilan, penataan dan pengetahuan dalam memadukan komponen biologis (ikan, udang mikro-organisme) dengan komponen non-biologis (substrate, kayu, bebatuan, ikan, dll) pada suatu wadah (aquarium, kolam, dsb) menjadi suatu karya rupa bernilai estetika yang dapat mempengaruhi perasaan orang lain yang melihatnya. Sejarah asal muasal konsep tentang aquascape yang tercatat dimulai dari eksperimen Robert Warrington pada tahun 1849. Robert Warrington melakukan eksperimen dengan aquarium air tawar yang diisi dengan lumpur dan pasir pada dasarnya, dilengkapi dengan bebatuan yang ditata dan ditanami dengan tanaman Vallisneria Spiralis. Kemudian Robert Warrington memasukkan dua ekor dan lima ekor keong air (Himnaea Stagnalis). Pada eksperimen tersebut Robert Warrington berhasil membuat keseimbangan ekosistem di dalam aquarium tersebut Robert Warrington berhasil membuat keseimbangan ekosistem di dalam aquarium dan mempublikasikan hasilnya melalui jurnal ilmiah yang berjudul “Notice of Observations on the adjustment of the relations between the Animal and Vegetable Kingdom, by which the vital functions of both are permanently maintained” pada tahun 1850. Dari eksperimen Robert Warrington di atas, konsep keberhasilan eksperimen ditandai dengan keseimbangan ekosistem di dalam aquarium. Demikian pula dengan konsep dalam aquascape, keseimbangan ekosistem adalah kunci keberhasilan. Kita tidak hanya membuat keindahan desain penataan batu, kayu, tanaman dsb. Tetapi kita juga harus mampu menjaga keseimbangan ekosistem di dalam aquarium, agar keindahan tersebut tetap terjaga
Antara Sains dan Seni
Setiap insan manusia memiliki kebutuhan mengekspresikan, menyampaikan kegelisahan yang tidak boleh dihardik oleh siapa pun. Seni hadir di antara manusia bukan untuk menuntut manusia bisa menjadi satu dengan yang lainnya, sebaliknya seni membebaskan manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Seni hadir dan menghadirkan diri dalam rasa. Dalam seni semua orang berhak untuk bergabung menjadi satu, meluapkan imajinasi, merayakan kebersamaan dalam berbagai bentuk yang bisa dirasakan bersama-sama.
(Art Without Sains Is Nothing)
Dalam seni, utamanya adalah mendapatkan kesenangan “fun with every One”, semua orang akan bersatu seperti kembali menjadi anak-anak ketika mendengar suara musik kemudian menari atau bernyanyi bersama.
Tidak mengingat sulitnya kehidupan, seni pun berperan menjadi pelipur lara, seni menjadi hiburan yang efektif untuk mengubah hati yang terluka menjadi lebih bersemangat dan memiliki pandangan yang lebih positif dan menjadi lebih siap untuk melanjutkan hidup. Seni tidak mengajak orang untuk bergumul tapi untuk mencintai diri sendiri, untuk mencintai satu sama lain dan untuk mengingat bahwa kita semua berasal dari
keturunan yang sama, kemudian bisa kembali bersatu untuk memberikan yang terbaik pada dunia.
Seni menyadarkan masyarakat untuk memelihara alam, seni membuat manusia bisa menyadari keberadaan manusia di dunia adalah untuk memelihara alam bukan untuk merusaknya. Dalam seni, manusia berperan menjadi organisme yang berjiwa besar, menjadi pelindung, penggerak, dan pengisi alam semesta. Seni tidak hanya untuk satu orang, tapi untuk alam semesta. Karenanya, banyak karya seni yang akan membicarakan hubungan antar manusia, antara manusia dengan binatang, antara manusia dengan alam terlebih denganTuhan – Tuhannya. Seni dengan lingkungan seperti nafas di kehidupan manusia, dan seni untuk menusia seperti jiwa di dalam diri manusia, sebuah passion yang membuat manusia menjadi lebih hidup, menemukan jati dirinya, menemukan jalan hidupnya.
Setiap momen dalam menikmati karya seni, seseorang akan kembali seperti anak yang baru saja dilahirkan, kanvas kosong yang terisi oleh goresan, warna, bentuk, kemudian terbentuk. Seseorang mungkin tidak menyadari jika, kehidupannya, keseluruhannya adalah seni. Mengolah hidup menjadi lebih hidup, adalah seni yang tidak ada batasnya. Bagaimana mengubah diri yang tadinya kekanakan menjadi lebih dewasa dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial merupakan penguasaan seni bersosialisasi yang bisa jadi tidak semua anak yang tumbuh di dunia ini mampu untuk melakukannya.
Setiap momen dalam menikmati karya seni, seseorang akan kembali seperti anak yang baru saja dilahirkan, kanvas kosong yang terisi oleh goresan, warna, bentuk, kemudian terbentuk. Seseorang mungkin tidak menyadari jika, kehidupannya, keseluruhannya adalah seni. Mengolah hidup menjadi lebih hidup, adalah seni yang tidak ada batasnya. Bagaimana mengubah diri yang tadinya kekanakan menjadi lebih dewasa dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial merupakan penguasaan seni bersosialisasi yang bisa jadi tidak semua anak yang tumbuh di dunia ini mampu untuk melakukannya.
“A picture worth a thousand words.”
Sebuah gambar bermakna ribuan kata.
Apa yang anda lihat dalam sebuah tank aquascape?
Bila harus dijabarkan dengan kata-kata, mungkin hanya ada dua kata yang paling tepat untuk menjelaskannya, yaitu alam dan keindahan.
Bila berbicara tentang alam, manusia dengan rasio dan akal pikir yang dimilikinya selalu berusaha melihat dan memahami dunia sekitarnya lewat ilmu pengetahuan atau sains.
Manusia memahami bagaimana tanaman dan hewan-hewan bertumbuh, mengapa air mengalir, untuk apa matahari bersinar, apa akibat dari adanya siang dan malam, semua manusia uraikan dalam sains. Bila berbicara tentang alam, manusia dengan rasio dan akal pikir yang dimilikinya selalu berusaha melihat dan memahami dunia sekitarnya lewat ilmu pengetahuan atau sains.
Melalui sains, manusia belajar mereplika alam untuk memahaminya. Di lain sisi, bila berbicara mengenai keindahan hampir selalu akan berkaitan dengan seni. Seni, di mana manusia mencoba melihat dan memahami dunia alam
semesta sekitarnya dari sudut pandang estetika. Aquascaping memiliki
keduanya. Baik seni dan keindahan, maupun sains dan rasionya, keduanya merupakan fondasi dasar eksistensi keberadaan aquascaping.
Aquascaping bukan hanya merupakan sebuah cara untuk memelihara ikan dan tanaman di dalam air. Namun aquascaping juga merupakan sebuah seni. Sebuah
proses mereplika keindahan alam untuk dinikmati keindahannya Saya katakan proses di sini, dan bukan hasil karya, karena dalam aquascaping sang seniman harus terus belajar dan berproses agar hasil karyanya sebisa mungkin dapat menyamai keindahan alam aslinya. Dalam aquascaping, mata manusia tak hanya menatap keindahan tata letak atau layout tanaman yang duduk harmonis bersama dengan keberadaan batuan, kayu, ikan dan hewan kecil lain yang berenang di sekitarnya. Namun di dalamnya, ia juga melihat jutaan unsur unsur yang bereaksi dengan sinar matahari yang kemudian menimbulkan arus energi yang memberikan kehidupan pada tumbuhan dan ikan-ikan. Semua terjadi dalam proses yang disebut fotosintesis.
Ia juga melihat bakteri mengolah sisa-sisa kotoran ikan menjadi unsur mineral yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Lingkaran kehidupan berupa rantai makanan tersebut berputar secara harmonis, menciptakan sebuah keindahan ekosistem.
Dan bila saja kita memahami apa saja yang dapat kita lihat dalam aquascaping, sejatinya kita akan berproses dalam membaca keagungan alam.
Estetika Aquascape
Imanuel Kant, seorang filsuf dan pemikir penting di zaman Eropa modern berpendapat tentang “kejeniusan” seorang pekerja seni dalam menciptakan sebuah keindahan. Pada hakikatnya manusia dapat menilai sebuah keindahan cukup dengan merenungkannya. Dunia dan alam semesta ini sudah memiliki keindahannya sendiri, tanpa perlu ada tambahan aktivitas kreatif apa pun dari manusia. Lantas kenapa kita butuh adanya seni.
Menurut Imanuel Kant, selera manusia akan sebuah keindahan (estetika) bukanlah sesuatu hal yang murni bersifat personal atau subjektif, melainkan sesuatu yang disetujui bersama oleh orang banyak atau dapat dibilang secara universal.
Kedua, keindahan tidak muncul dari konsep “dapat dipahami”, melainkan dari adanya suatu kebebasan bagi siapa pun untuk memainkan imajinasi.
Ketiga, kemampuan untuk memainkan imajinasi dengan bebas itulah uniknya “kejeniusan” seni.
Keindahan alamiah (natural beauty) artinya adalah sesuatu yang indah, namun keindahan artistik (artistic beauty) artinya ialah representasi yang indah akan sesuatu. Dan merupakan tugas para jeniuslah untuk menciptakan sebuah representasi yang indah.
(Graham, Gordon. 1997. Philosophy of the Arts: An Introduction to Aesthetics. Second Edition. Routledge: London. p.15)
Di zaman dahulu, seni sangatlah jarang. Kecuali kamu adalah orang yang kaya raya, satu-satunya gambar atau lukisan yang bisa kamu lihat umumnya hanya ada di gereja, di mana tujuan gambar tersebut berada di sana adalah untuk membuatmu mengagumi keindahannya.
Di zaman sekarang, kita dibombardir oleh begitu banyak gambar yang cerah dan penuh warna (pada billboards, di majalah, di televisi, dan di internet) di mana hampir semuanya menggunakan bahasa seni (biasa disebut nyeni) untuk menarik perhatian kita, memperkaya lingkungan visual kita, dan sebagai sebuah karya seni yang dapat dinikmati publik.
Semua karya seni ini saling memperebutkan perhatian kita, sehingga tidak hanya gambar-gambar tersebut haruslah eye-catching, unggul dan stand out diantara
gambar-gambar yang lain, tapi juga harus mampu menyampaikan pesan yang jelas dan tidak ambigu.
Bagaimana caranya seorang Aquascaper menangkap pandangan mata viewernya, menarik mereka ke dalam sebuah Aquasape, dan menahan minat mereka di sana agar mereka mengeksplor karya tersebut lebih dalam?
Jawabannya ialah dengan menciptakan focal point. Sebuah focal point menumbuhkan minat orang yang melihatnya, mencegah mata sang penikmat berkeliaran tak berarah dalam melihat keseluruhan Aquascape.
Dalam aquascape, semua harus dapat dengan mudah dimengerti segala sesuatu harus terlihat dengan jelas, karna aquascape bukan seni abstrak yang merupakan jenis seni kontemporer yang tidak menggambarkan objek dalam dunia asli. Karna itu proporsi sangat diperhitungkan.
Proporsi berkaitan dengan rasio. Ketika kita memperbesar atau memperkecil sebuah objek, kita mengubah dimensinya, namun bagaimanapun tetap mempertahankan rasio atau perbandingan antara lebar (width) dan tingginya (height).
Golden ratio adalah sebuah proporsi yang tampaknya memiliki unsur-unsur ajaib, dan beberapa orang bilang, menggambarkan sebuah keindahan universal.
Bila sebuah garis lurus kita bagi dua, dan rasio (perbandingan) antara garis yang lebih pendek terhadap garis yang lebih panjang sama dengan rasio (perbandingan) antara garis yang lebih panjang terhadap jumlah panjang kedua garis tersebut, maka kondisi ini disebut golden ratio.
Foundations of Art and Design. Pipes, Alan. 2003. Laurence King Publishing Ltd: London, UK